Sabtu, 14 September 2013

Bahasa Daerah Papua Harus Tetap Eksis

JAYAPURA -- Di tengah ancaman punahnya bahasa daerah/bahasa lokal di Tanah Papua, Indonesia harus tetap mempertahankan salah satu kekayaan budaya bangsa tersebut agar tetap eksis. Salah satu caranya dengan menjadikan bahasa daerah berbagai suku Papua sebagai mata pelajaran bermuatan lokal pada berbagai jenjang/tingkatan pendidikan di Tanah Papua.


Hal itu sebagai benteng pertahanan dini terhadap ancaman kepunahan bahasa daerah di Papua.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Elias Wonda kepada SH, Selasa (13/8), mencatat dari 275 bahasa daerah yang ada di berbagai suku di Tanah Papua, memang sudah ada yang dijadikan sebagai mata pelajaran bermuatan lokal di sekolah-sekolah. Namun, menurutnya, beberapa sekolah di Papua menjadikan bahasa daerah sebagai muatan lokal hanya untuk sekolah awal atau SD kecil, yaitu kelas 1-3.

“Tetapi untuk kelas 4, 5, dan 6 sudah tidak lagi menggunakan bahasa daerah, melainkan bahasa Indonesia. Karena yang saya tahu kelas 1, 2, 3 ada bahasa lokalnya,” ujarnya.

Tetapi, Elias juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa Indonesia di setiap sekolah sebagai bahasa pemersatu di republik ini. Sementara itu, Asisten III Bidang Umum Sekda Provinsi Papua Waryoto mengatakan Provinsi Papua merupakan provinsi yang terbaik dalam penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di seluruh wilayah Tanah Air, baik dalam pemerataannya maupun penerapannya.

Hal tersebut dikatakannya pada acara program pendidikan di komunitas adat terpencil di Provinsi Papua yang digelar beberapa waktu lalu di Jayapura.

“Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar di seluruh Tanah Papua dan juga Indonesia, karena kalau kita lihat dan amati, di seluruh provinsi yang ada di Indonesia, bahasa Indonesia yang paling familiar. Kalau kita bandingkan di provinsi yang lainnya, di Papua inilah yang terbaik. Ini kita tidak bisa mengelak dan harus kita akui bahasa Indonesia kalau kita bandingkan dengan provinsi-provinsi yang lain. Di Papua penerapan dan pemerataan penggunaan bahasa inilah yang terbaik,” jelasnya.

Pedalaman 
Lebih lanjut Waryoto mencontohkan, di pedalaman dan pegunungan di Papua pasti ada penduduk yang bisa berbahasa Indonesia. Sebaliknya, sambung dia, dibandingkan dengan daerah lain, seperti wilayah Jawa atau Sumatera dan Sulawesi, ada daerah-daerah tertentu yang tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia sama sekali.

“Inilah kebanggaan kita sebagai suatu potensi yang harus terus digali, dan inilah yang menjadi suatu khazanah harta kita yang harus dilestarikan dan dipertahankan,” ujarnya.

Seperti diberitakan SH sebelumnya, berdasarkan hasil penelitian Institute of Linguistic Internasional (SIL), dari 275 bahasa daerah di Papua, hanya 130 bahasa yang masih eksis. Selebihnya, terancam bahkan telah punah. Hal itu diungkapkan peneliti bahasa dari SIL, Jacklin Menanti, kepada SH di Jayapura, Selasa.

Menurut Jacklin, penyebab kepunahan tersebut akibat komunikasi di pusat-pusat keramaian dan kegiatan ekonomi seperti di pasar, yang menggunakan bahasa lain. Selain itu, menurutnya, ada pandangan dari orang tua bahwa keberhasilan anaknya di sekolah ditunjukkan dengan penggunaan bahasa Indonesia. “Jangan menggunakan bahasa daerah. Ini salah satu pandangan yang membuat bahasa daerah itu menjadi terancam punah,” ungkapnya.

Perkawinan campur dan perang antarsuku, ujarnya, juga menjadi penyebab, tetapi hal itu terjadi sekitar 1990-an di daerah Namla, di mana para perempuannya menikah dengan pria dari suku Tofanma yang menggunakan bahasa Tofanma. Alhasil, bahasa Namla saat ini telah punah. Ia juga mengungkapkan bahasa daerah dari suku di Papua yang sudah punah ada di sekitar wilayah Kabupaten Wondama, yakni bahasa Dufner dan Tandia. (Effatha Tamburian)


Sumber : Sinar Harapan

0 komentar:

Posting Komentar