Sabtu, 05 Oktober 2013

Melatih Kepemimpinan Santri Melalui Permainan

TEMBAGAPURA - Ahad, 29 September 2013 merupakan Ahad yang tidak biasa bagi para santri TPQ HAISRA karena bertepatan dengan Ahad kelima di bulan September.  Jika di Ahad kedua sampai keempat para santri belajar tentang Aqidah Akhlaq, Fiqh, Kitabah serta Bahasa Arab, maka di Ahad kelima ini mereka diajak bermain dan berlomba oleh para asatidz dan asatidzah. Kepala TPQ HAISRA, Yurzan Zaldi mengatakan bahwa kegiatan tersebut memang sesuai dengan kurikulum HAISRA. “Ahad kelima adalah saat bagi santri menggunakan kemampuan motoriknya dengan tidak terlepas dari nilai-nilai ukhrawi”, papar ustadz Yurzan.
Permainan yang dibuat bukan sekedar permainan biasa.  Namun, permainan yang dapat diambil ibrohnya oleh para santri atau bahkan oleh para asatidz/asatidzah. Konsep permainan yang dirancang oleh tim dari IRMAFI-HMM meliputi tujuh jenis permainan yang mengajarkan kepada santri tentang sikap kepimimpinan, ketaatan, komunikasi efektif, disiplin, berpikir sebelum berbicara, lebih banyak mendengar daripada berbicara, saling menolong, mendahulukan saudara, serta berkreatifitas.  Permainan tersebut adalah Balik Karung, Qur’an Puzzle, Spider Web, Tebak Kata, Bentuk Bidang Ruang, Amazon, dan Kertas Ajaib.  Teknisnya, Santri dibagi menjadi lima kelompok yang terdiri dari tingkatan yang berbeda, mulai dari playgroup hingga kelas 9.  Setiap kelompok harus mengikuti semua permainan di tujuh Pos yang setiap posnya dipandu oleh asatidz/asatidzah. Tiga kelompok dengan usaha terbaik akan mendapatkan reward.  Selain itu, diberikan pula penghargaan kepada peserta terbaik putra dan putri.

Melalui metode pembelajaran ini diharapkan santri dapat menerapkan nilai-nilai akhlaqul karimah  terhadap diri sendiri, orang tua, lingkungan sekitar maupun kepada Sang Khaliq. Utamanya masing-masing santri harus menyadari bahwa pada dasarnya mereka adalah sebagai pemimpin diri sendiri yang harus mampu mengendalikan diri, bekerja sama, menghargai orang lain  dan pada saat yang bersamaan harus berkompetisi untuk menjadi yang terbaik.  

Meskipun menghadapi berbagai rintangan yang ada mereka tidak boleh berputus asa dan senantiasa saling membantu. Setiap perbuatan baik pasti akan ada balasan pahala dari Allah SWT. 

Melalui permainan yang diberikan juga bertujuan agar santri menyadari perilakunya masing-masing yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.  Dan pada tujuan akhirnya, agar mereka dapat menjadi anak yang shalih/shalihah, yang takut kepada Allah, yang rasa takutnya menghadirkan ketaatan kepada-Nya, yang kelak menyelamatkan orang tua mereka dari kerugian di akhirat karena dunia dan isinya tak cukup membalas jasa orang tua kecuali dengan surga. Wallahu a’lam (π) - (Nur Azizah Sofia)

0 komentar:

Posting Komentar