Selasa, 12 November 2013

Sejenak Bersama Guz Reza



TEMBAGAPURA, 11 Nov 2103 - “Guz Reza panggil saya …Huruf  Z bukan S” awal perkenalan dengan beliau. “Saya tidak ingin ada jarak antara saya dengan teman-teman sekalian, saya tidak menyangka acara Tabligh Akbar yang bertemakan “Hijrah” di Tembagapura Papua ini dikemas sedemikian rupa” ucapnya. Penampilan yang rapi seperti umumnya Dai lainnya, beliau juga menyandang Grand Master Motivator yang handal, tidak akan terasa waktu bergulir dan mengalir bila kita ada didekatnya, pantaslah bila beliau tercatat di museum MURI sebagai Training Motivasi terlama  24 jam nonstop, “Saya bisa melakukan itu karena I Love My Job” ujarnya. Bila kita mencintai apa yang kita kerjakan semuanya akan mengalir tanpa terasa.


Belajar untuk mendapatkan  Ilmu tidaklah harus selalu melalui pendidikan formal saja akan tetapi bila kita menempatkan diri sebagai orang yang mau belajar akan banyak sekali yang dapat kita peroleh disetiap lini kehidupan ini. Banyak orang yang memiliki tapi tidak menikmati, dan banyak pula orang yang bisa menikmati tapi tidak memiliki”. Itu salah satu falsafah yang beliau anut.

Reza M.Syarief nama lengkapnya sebagai Dai sekaligus Motivator beliau juga menulis buku, dan buku terbitan terbarunya dengan judul Life Excellent (Menuju hidup lebih baik).
Dalam menjabarkan managemen kehidupan Guz Reza menggunakan contoh–contoh yang real dan gampang dicerna sehingga membuat lingkungan yang sedang diceramahi layaknya sedang berada dalam arena outbond, tak salah bila gaya sebagai motivator dikombinasikan dengan materi dakwah menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Tak lama lagi beliau akan Hijrah ke Negeri Paman Sam, tepatnya kota San Bernardino State California. Ada beberapa pertanyaan yang terbersit dalam benak saya pada saat beliau mengungkapkan hal tersebut … Bagaimana dengan umat yang ada di Indonesia yang cinta dan senang dengan cara penyampaian beliau dalam berdakwah maupun cara beliau memotivasi serta pergeseran Nilai yang terjadi di Indonesia saat ini.

Jawab beliau “Kalau saya membawa air ketempat yang sumber airnya banyak tentulah kurang bermakna tapi kalau saya membawa air ke gurun atau padang pasir pastilah air tersebut akan mempunyai nilai yang sangat tinggi”. Dengan senyum yang lebar dia mengemukan lagi pendapatnya sekaligus yang menguatkan niat untuk berhijrah”.

Di Indonesia sudah banyak sekali dai dengan beragam gaya dan metode penyampaian materi dakwah, sementara di Amerika untuk bisa disetujui menetap apalagi dalam konteks religi sulit sekali diperoleh, alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan kesana berkat undangan dari Dewan Islam yang berdomisili di California, disana banyak muslimah yang menikah dengan mualaf, anak-anak muslim yang besar disana dengan western style, orang-orang  Islam lintas Negara, Afrika, Eropa, Timur Tengah, terus Lintas Agama, bagaimana kita hidup berdambingan dengan Yahudi, Nasrani atau pendeta nasrani, wawasan Islam nya bukan nasional tapi global, kita tidak melunturkan dari mana kita berasal atau akar budaya kita sebagai bangsa Indonesia “Beliau juga punya pandangan dengan ada Islam yang ada di Indonesia dimana saya menanyakan pengenaan Jilbab yang saat ini terkesan Fashion sekali sehingga beberapa rekan-rekan muslimah mengajak kembali  ke Jilbab Syar’I. Beliau Mengatakan “kita harus mengetahui methodology islam di Indonesia diawali dengan syariat tapi tidak dilanjutkan ke berikutnya hakikat, tarikat, maknawiat. 

Kalau berhenti sampai poin pertama cenderung akan timbul pertentangan, menuding dan menuduh. Yang terpenting tidak terjadi fanatisme yang berlebihan. Seperti yang terjadi di Amerika mereka lebih respek terhadap hakikatnya…. sayang sekali percakapan kami terputus karena acara bedah buku akan segera berlangsung. 

Semoga saja niat di seberang nanti akan menimbulkan Sinaran Illahi yang semakin cemerlang, selamat berjuang Guz Reza, doa kami menyertai langkahmu. ( Erry Setiawan.)

0 komentar:

Posting Komentar