Selasa, 15 Juli 2014

Ramadhan di Kota Tanpa Matahari

TEMBAGAPURA - 15/07/2014 - Papua dikenal memiliki cuaca yang terik dan panas, namun tidak di Tembagapura. Setiap hari, kota ini selalu diselimuti kabut yang menghalangi matahari dan memiliki curah hujan tinggi. Bisa dikatakan Tembagapura adalah kota tanpa matahari dikarenakan tiada hari tanpa kabut dan hujan. Kota ini seakan tersembunnyi dibalik gunung-gunung tinggi yang meliputinya.


Kota Tembagapura termasuk dalam wilayah Kabupaten Mimika dan dikenal sebagai kawasan pertambangan. Kota ini dibangun untuk menunjang kegiatan pertambangan yang berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Oleh karena itu perkantoran, pemukiman, pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan sekolah tersedia di sini. Di kota inilah para pekerja dan keluarga pekerja tinggal. Jika Anda ingin berkunjung ke Tembagapura, maka Anda harus menjadi seorang karyawan atau keluarga dari karyawan yang bekerja di tempat ini, dan tentu saja  ada beberapa prosedur dan peraturan yang harus ditaati saat berkunjung ke tempat ini.
 
Tembagapura terletak di ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut, sedangkan pucak tertingginya ada di daerah pertambangan Grasberg yaitu sekitar 4.200 meter di atas permukaan laut. Bisa dibayangkan suhu dan cuaca yang ada di kota ini. Bisa dikatakan Tembagapura adalah sebuah kota dengan AC raksasa yang menyelimutinya. Lantas bagaimana suasana Ramadhan di kota ini?
Cuaca ekstrim dan keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat kaum muslim Tembagapura untuk menjalankan kewajiban ibadah di Bulan Ramadhan. Bepuasa di tempat yang bersuhu sangat dingin terkadang disertai hujan salju, atau bahkan berpuasa di terowongan bawah tanah yang sangat dalam menjadi hal yang biasa bagi para pekerja. Matahari tak lagi menjadi penanda datangnya subuh atau sampainya waktu berbuka, melainkan menggunakan jam serta jalur komunikasi yang ada yakni telefon. Saat waktu berbuka tiba, jika jam yang dipakai kurang valid maka tinggal telfon ke Radio Suara HMM yang mengudara di kompleks Masjid Darussa’adah Tembagapura untuk menanyakan apakah sudah masuk maghrib atau belum. Radio Suara HMM merupakan radio komunitas muslim yang didirikan oleh Yayasan Masyarakat Muslim di tempat itu. Di radio inilah berbagaiberbagai program menarik diudarakan, mulai dari tausiyah hingga kuiz berhadiah menarik.
 
Kota Tembagapura juga dapat menjadi tempat yang tepat bagi Anda yang ingin khusuk menjalankan aktifitas ibadah Bulan Ramadhan. Suasana lingkungan yang hening dan syahdu sangat mendukung untuk menciptakan kekhusukkan tersendiri bagi jamaah.
 
Sepanjang Ramadhan Yayasan Masyarakat Muslim juga bekerja sama dengan komunitas dalam menyiapkan serangkaian acara mulai dari sahur dan buka bersama, tarawih bersama, serta tausiyah. Tausiyah diadakan setiap ba’da isya, subuh dan dhuhur yang diisi oleh para ustadz yang khusus didatangkan dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam hal ini Yayasan Masyarakat Muslim telah menyediakan beberapa ustadz tetap serta mengundang beberapa ustadz tamu untuk mengakomodir berbagai kegiatan islami yang dilaksanakan.
 
Geliat Ramadhan juga dirasakan oleh kaum ibu yang tinggal di Tembagapura.  Kontribusi ibu-ibu di tiap acara yang diselenggarakan di lingkungan Yayasan Masyarakat Muslim patut diacungi jempol. Acara buka puasa yang dilangsungkan setiap hari takkan berlangsung sukses tanpa bantuan para pahlawan rumah tangga ini. Kaum ibu di Tembagapura juga disibukkan dengan  adanya Bazaar Ramadhan setiap sore hari menjelang Maghrib. Kegiatan ini sebagai wadah untuk menjual kue-kue kreasi para ibu Tembagapura.
 
Ramadhan di Tembagapura serasa istimewa karena hanya di sinilah dilaksanakan Takbir Keliling tertinggi di Indonesia yakni di ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. Tembagapura adalah kota multicultural, berbagai suku budaya dan bangsa hidup rukun berdampingan, namun demikian keunikan Ramadhan di Tembagapura menjadi symbol kerukunan antar umat beragama dan kebersamaan antar umat muslim yang terpelihara dengan baik. (Syarif)

0 komentar:

Posting Komentar